Ini masih terjadi. Seseorang menulis tiga paragraf dengan hati-hati menjelaskan apa yang ia butuhkan, menekan kirim, dan halamannya kembali kosong karena nomor telepon ditulis dalam format yang tidak disukai validator.
Ia tidak akan mengetik ulang. Ia pergi, dan perusahaannya tidak pernah tahu permintaan itu pernah ada.
Validasi di tempat kesalahannya
Galat di puncak halaman, menunjuk kolom di suatu tempat di bawah, meminta pengunjung melakukan pencocokan sendiri. Semakin panjang formulirnya, semakin buruk.
Pesannya milik kolom itu, dengan kata-kata yang menyebut apa yang harus dilakukan, bukan apa yang salah. Masukkan tanggal setelah hari ini menolong. Input tidak valid tidak — itu deskripsi perasaan validatornya.
Untuk formulir panjang, ringkasan pendek dekat tombol memang layak, karena di situlah orang menatap ketika tidak terjadi apa-apa. Tapi ringkasan yang mengulang satu galat yang sudah terlihat dua baris di atasnya adalah kebisingan: ia harus muncul ketika menambah sesuatu, bukan karena prinsip.
Jangan pernah membuang isian
Apa pun yang terjadi, apa yang diketik orang itu harus kembali. Ini aturannya, dan ia berlaku bahkan ketika kegagalannya di pihak Anda — kehabisan waktu, batas laju, pemeriksa spam yang salah tembak.
Pemeriksa spam layak dipikirkan sendiri. Formulir yang diam-diam membuang kiriman yang ia curigai sedang mengoptimalkan untuk operatornya dan merugikan pengunjung yang tidak melakukan kesalahan apa pun. Kalau sebuah kiriman ditolak, orangnya harus diberi tahu dengan cara yang bisa ia tindaklanjuti, dan teksnya harus tetap ada di kotaknya.
Longgar soal format, ketat soal makna
Nomor telepon yang diketik dengan spasi, titik, atau kode negara adalah nomor telepon yang sama. Menolaknya mengajari pengunjung bahwa formulirnya rewel; menerimanya lalu merapikannya setelahnya memakan beberapa baris kode.
Makna itu lain, dan layak diperketat — kolom wajib yang memang wajib, tanggal yang tidak boleh di masa lalu. Aturan itu mencegah data buruk masuk ke perusahaan. Aturan format kebanyakan cuma mencegah orang.